Senin, 11 April 2022

SIKLUS PENDAPATAN DALAM SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


TUGAS
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

  BAB V


"SIKLUS PENDAPATAN"





Disusun : 

AGUSTINUS BAYU SETIAWAN

2019111209

AKUNTANSI



Mata Kuliah : Sistem Informasi Akuntansi
Dosen : Imelda Sinaga, M.M., M.S.Ak.,Ak., CA.


Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Gentiaras

 Bandar Lampung

2022







KATA PENGANTAR


Puji Syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan yang telah melimpahkan rahmat dan berkat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “"SIKLUS PENDAPATAN"”.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi. Adapun isi dari makalah ini yaitu menjelaskan tentang Apa itu"SIKLUS PENDAPATAN"

Penyusun berterima kasih kepada Ibu Imelda Sinaga, M.M., M.S.Ak.,Ak., CA. selaku dosen mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi yang telah memberikan arahan serta bimbingan, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan makalah ini.




I.      PENDAHULUAN
Sistem Informasi Akuntansi meliputi berbagai aktivitas yang berkaitan dengan siklus – siklus pemrosesan transaksi perusahaan. Meskipun tidak ada dua organisasi yang identik, tetapi sebagian besar mengalami jenis kejadian ekonomi yang serupa. Kejadian – kejadian ini menghasilkan transaksi – transaksi yang dapat dikelompokan menjadi empat siklus aktivitas bisnis yang umum, yaitu :
1.      Siklus Pendapatan
2.      Siklus Pengeluaran
3.      Siklus Produksi
4.      Siklus Keuangan
Pada umumnya perusahaan dagang didirikan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.  Guna mendapatkan keuntungan tersebut perusahaan perlu melakukan  siklus pendapatan yang terdiri dari pesanan penjualan, pengiriman barang, penagihan dan piutang usaha, serta penagihan kas.
Guna mendapat keuntungan tersebut perusahaan perlu melakukan 4 aktivitas dalam siklus pendapatan yang terdiri dari :
1.      Pemesanan penjualan
2.      Pengiriman barang
3.      Penagihan dan piutang usaha
4.      Serta penagihan kas

   II.            SIKLUS PENDAPATAN
Siklus pendapatan adalah rangkaian aktivitas bisnis dan kegiatan pemrosesan informasi terkait yang terus berlangsung dengan menyediakan barang dan jasa ke para pelanggan dan menagih kas sebagai pembayaran dari penjualan tersebut. Tujuan utama siklus pendapatan adalah menyediakan produk yang tepat di tempat dan waktu yang tepat dengan harga yang sesuai.
Oleh karenanya kami akan merumuskan masalah dalam desain sistem umum siklus pendapatan berikut ini :





Empat aktivitas dasar bisnis yang dilakukan dalam siklus pendapatan :

1.      Penerimaan pesanan dari para pelanggan
Ø  Mengambil pesanan pelanggan
Ø  Persetujuan kredit
Ø  Memeriksa ketersediaan persediaan
Ø  Menjawab permintaan pelanggan

2.      Pengiriman barang
Ø  Ambil dan pak pesanan
Ø  Kirim pesanan

3.      Penagihan dan piutang usaha
Ø  Penagihan
Ø  Pemeliharaan data piutang usaha
Ø  Pengecualian : Penyesuaian rekening dan penghapusan

4.      Penagihan kas
Siklus pendapatan terdiri dari semua kegiatan dalam sistem order entry/penjualan, sistem penagihan/penerimaan kas, dan sebagian kegiatan yang relevan dalam sistem inventaris dan sistem general ledger. Operasi - operasi siklus pendapatan menyertakan :
·            Pendapatan dan pencatatan order pelanggan
·            Pengiriman barang dan pencatatan biaya dari barang yng terjual
·            Penagihan dan pencatatan penjualan dan accounts receivable
·            Pendapatan dan pencatatan penerimaan kas  

A.    URUTAN AKTIVITAS
Siklus pendapatan dimulai dengan penerimaan pesanan dari para pelanggan. Departeman bagian pesanan penjualan, yang bertanggung jawab pada wakil direktur utama bagian pemasaran, melakukan proses entri pesanan penjualan. Entri pesanan penjualan mencakup tiga tahap: mengambil pesanan dari pelanggan, memeriksa dan menyetujui kredit pelanggan, serta memeriksa ketersediaan persediaan dan juga menjawab permintaan pelanggan.

1.     Mengambil pesanan pelanggan
 Pesanan pelanggan dapat diterima dalam berbagai cara: di toko, melalui surat, melalui telepon, melalui web site, atau melalui tenaga penjualan di lapangan. Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi entri pesanan penjualan adalah dengan mengizinkan para pelanggan untuk memasuki data pesanan penjualan sendiri. Hal ini secara otomatis akan tercapai untuk penjualan melalui web site, tetapi hal ini juga dapat dicapai baik dalam penjualan melalui toko maupun surat.

2.     Persetujuan kredit
Sebagian besar penjualan antarperusahaan (business-to-business sales) dilakukan secara kredit. Penjualan secara kredit harus disetujui sebelum diproses. Bagi pelanggan lama dengan catatan pembayaran yang baik, pemeriksaan kredit formal untuk setiap penjualan biasanya tidak dibutuhkan. Pada kasus semacam ini, menyetujui kredit bagi pelanggan melibatkan pemeriksaan file induk pelanggan untuk memverifikasi saldo yang ada, mengidentifikasi batas kredit pelanggan, dan memverifikasi bahwa jumlah pesanan tersebut ditambah dengan saldo rekening yang tidak melebihi batas kredit ini. Proses ini dapat diotomatisasikan dengan menggunakan pemeriksaan edit lainnya selama proses entri pesanan, yaitu pemeriksaan batas. Otorisasi khusus untuk menyetujui kredit digunakan bagi para pelanggan baru, ketika sebuah pesanan melebihi batas kredit pelanggan tersebut, atau ketika pelanggan tersebut memiliki saldo lewat jatuh tempo yang belum dibayar. Otorisasi jenis ini harus dilakukan oleh manajer bagian kredit.

3.     Memeriksa ketersediaan persediaan
Langkah berikutnya adalah menetapkan apakah tersedia cukup persediaan untuk memenuhi pesanan tersebut, agar pelanggan dapat diinformasikan mengenai perkiraan tanggal pengiriman. Apabila tersedia cukup banyak persediaan untuk memenuhi pesanan tersebut, pesanan penjualan tersebut dilengkapi dan kolom jumlah yang tersedia dalam file persediaan untuk setiap barang dikurangi sejumlah barang yang dipesan.
Ketika ketersediaan persediaan telah dipastikan, sistem tersebut kemudian akan membuat kartu pengambilan barang (picking ticket) yang berisi daftar jenis barang-barang, dan jumlah setiap jenis barang, yang dipesan pelanggan. Kartu pengambilan memberikan otorisasi bagi bagian pengawasan persediaan untuk melepaskan barang dagangan ke bagian pengiriman.

4.     Menjawab permintaan pelanggan
Pelayanan pelanggan adalah hal yang begitu penting hingga perusahaan-perusahaan mengunakan software khusus, yang disebut sistem manajemen pelayanan pelanggan (Customer Relationship Management-CRM), untuk mendukung proses penting ini. Sistem CRM membantu mengatur data terinci mengenai para pelanggan hingga data tersebut dapat digunakan untuk memfasilitasi layanan yang lebih efisien serta personal. Tujuan dari CRM adalah untuk mempertahankan pelanggan. Sistem CRM seharusnya dilihat sebagai suatu cara untuk meningkatkan pelayanan pelanggan yang diberikan. Tujuannya adalah untuk mengubah pelanggan yang loyal menjadi pelanggan yang puas dengan cara memperdalam hubungan tersebut.
Aktivitas dasar kedua dalam siklus adalah memenuhi pesanan pelanggan dan mengirimkan barang dagangan yang diinginkan tersebut. Proses ini terdiri dari dua tahap:
1)      Mengambil dan mengepak pesanan
2)      Mengirim pesanan tersebut
Departemen bagian penggudangan dan pengiriman melakukan aktivitas ini.
1.     Ambil dan mengepak pesanan
Kartu pengambilan barang yang dicetak sesuai dengan entri pesanan penjualan akan memicu proses pengambilan dan pengepakan. Para pekerja bagian gudang menggunakan kartu pengambilan barang untuk mengidentifikasi produk mana, dan jumlah setiap produk untuk mengeluarkannya dari persediaan. Persediaan kemudian akan dipindahkan ke departemen pengiriman.
            Sistem gudang otomatis tidak hanya memotong biaya dan meningkatkan efisiensi dalam menangani persediaan, tetapi juga memungkinkan pengiriman yang lebih responsif ke pelanggan.

2.     Mengirim pesanan
Departemen pengiriman membandingkan perhitungan fisik persediaan dengan jumlah yang ditunjukkan dalam kartu pengambilan barang dan dengan jumlah yang ditunjukkan dalam salinan pesanan penjualan yang dikirim secara langsung ke bagian pengiriman dari entri pesanan penjualan.
Dokumen pengiriman adalah kontrak legal yang menyebutkan tanggung jawab atas barang yang dikirim.  Departemen pengiriman menyimpan salinan kedua dokumen pengiriman untuk melacak dan mengkonfirmasikan pengiriman barang ke kurir tersebut. Salinan lainnya dari dokumen pengiriman dan slip pengepakan dikirim ke departemen penagihan untuk menunjukkan bahwa barang tersebut telah dikirim dan faktur penjualan harus dibuat serta dikirim. Kurir tersebut juga menahan satu salinan dokumen pengiriman untuk catatan mereka.

Ringkasan dari Pengawasan siklus Pendapatan :
Aktivitas Kontrol
Proses Penjualan
Penerimaan Kas
Transaksi Persetujuan

Pemisahan Tugas

Pemeriksaan Kredit,
Kebijakan Retur
Kredit dipisahkan dari pemrosesan; pengawasan persediaan dipisah dari gudang; buku besar pembantu piutang dipisah dari buku besar umum
Daftar Pembayaran

Penerimaan kas dipisah dari piutang dan rekening kas; buku besar piutang dipisah dari buku besar umum.
Aktivitas Kontrol
Proses Penjualan
Penerimaan Kas
Supervisi

Catatan Akuntansi







Akses




Verifikasi Independen


Pesanan Pembelian, jurnal pembelian, buku besar pembantu piutang, rekening control piutang (buku besar umum), buku besar pembantu persediaan, pengawasan persediaan, rekening penjualan (buku besar umum).
Akses secara fisik ke persediaan; akses ke catatan akuntansi diatas ; akses secara fisik ke kas, akses ke catatan akuntansi di atas.
Departemen pengiriman, departemen penagihan, buku besar umum.
Departemen penerimaan dokumen
Dokumen pembayaran, cek, daftar jurnal pembayaran, penerimaan kas, buku besar piutang, rekening control piutang, rekening kas.



Departemen pengiriman, departemen penagihan, buku besar umum


Penerimaan kas, buku besar umum, rekonsiliasi bank.







Ancaman dan Pengendalian dalam Siklus Pendapatan sebagai berikut :
Proses / Aktivitas
Ancaman
Prosedur Pengendalian yang dapat diterapkan
Entri Pesanan Penjualan







Pengiriman






Penagihan dan piutang usaha
1.    Pesanan pelanggan yang tidak lengkap atau tidak akurat.

2.    Penjualan secara kredit ke pelanggan yang memiliki catatan kredit buruk.

3.    Keabsahan Pesanan

4.    Habisnya persediaan , biaya penggudangan, dan pengurangan harga

5.    Kesalahan pengiriman:
   Barang dagangan salah  Jumlah yang salah Alamat yang salah.

6.    Pencurian persediaan.





7.    Kegagalan untuk menagih pelanggan



8.    Kesalahan dalam penagihan


9.    Kesalahan dalam memasukkan data ketika memperbarui piutang usaha
Pemeriksaan kelengkapan data pelanggan, pencarian otomatis data referensi seperti alamat.

Menetapkan batas kredit utk setiap pelanggan, persetujuan kredit oleh manajer bagian kredit, memelihara catatan yang akurat atas saldo piutang pelanggan.
Ttd di atas dokumen kertas; ttd digital dan sertifikat digital untuk e-business.
Sistem pengendalian persediaan, dan perhitungan fisik persediaan secara periodic.


Membandingkan data pengiriman dan pesanan penjualan; pemindai kode garis Pengendalian aplikasi entri data


Persediaan disimpan di tempat yang aman dengan pembatasan akses secara fisik; semua transfer internal didokumentasikan; perhitungan fisik persediaan secara periodik dan rekonsiliasi perhitungan dengan jumlah yang dicatat.
Pemisahan fungsi pengiriman dan penagihan; pemberian nomor terlebih dahulu ke semua dokumen pengiriman dan rekonsiliasi faktur secara periodik; rekonsiliasi kartu pengambilan dengan pesanan penjualan.
Mencocokan jumlah yang tercantum di slip pengepakan dengan jumlah di pesanan penjualan.
Rekonsiliasi buku pembantu piutang usaha dengan buku besar; laporan bulanan ke pelanggan.

Proses/ aktivitas
Ancaman
Prosedur pengendalian yang dapat diterapkan
Penagihan kas






Masalah pengendalian umum
10.    Pencurian Kas







11.    Kehilangan data


12.    Kinerja yang buruk
Pemisahan tugas; minimalisasi penanganan kas; kesepakatan lockbox; konfirmasikan pengesahan dan penyimpanan semua penerimaan;
Rekonsiliasi periodik laporan bank dengan catatan seseorang yang tidak terlibat dalam pemrosesan penerimaan kas.
Prosedur cadangan dan pemulihan dari bencana; pengendalian akses (secara fisik dan logis).
Persiapan dari tinjauan laporan kinerja.















DAFTAR PUSTAKA

dhoraputriee/SELASA, 08 DESEMBER 2015

http://dhoraputriee.blogspot.com/2015/12/siklus-pendapatan-dalam-sistem.html



Senin, 28 Maret 2022

Pengendalian Sistem Informasi Akuntansi

 





 BAB IV


Pengendalian Sistem Informasi Akuntansi





Disusun : 

AGUSTINUS BAYU SETIAWAN

2019111209

AKUNTANSI









KATA PENGANTAR


Puji Syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan yang telah melimpahkan rahmat dan berkat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengendalian Sistem Informasi Akuntansi ”.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi. Adapun isi dari makalah ini yaitu menjelaskan tentang Apa itu Pengendalian Sistem Informasi Akuntansi

Penyusun berterima kasih kepada Ibu Imelda Sinaga, M.M., M.S.Ak.,Ak., CA. selaku dosen mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi yang telah memberikan arahan serta bimbingan, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan makalah ini.



Pengertian Pengendalian Internal Menurut Para Ahli

Sebelum merangkum apa itu pengendalian internal, mari simak beberapa definisi pengendalian internal menurut para ahli.

1. COSO (Committee of Sponsoring Organization)

Bisa dibilang COSO merupakan komite yang membuat kerangka konsep dari pengendalian internal yang banyak digunakan perusahaan saat ini.

COSO mendefinisikan pengendalian internal sebagai proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen, dan karyawan yang dirancang dalam rangka memberikan jaminan bahwa organisasi dapat mencapai tujuannya melalui,

  • efisiensi dan efektifitas produksi;
  • penyajian laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan;
  • ketaatan terhadap undang-undang dan aturan yang berlaku.

2. IFAC (International Federation of Accountants)

IFAC mendefinisikan pengendalian internal sebagai sistem yang dimiliki organisasi untuk mengelola risiko yang dilaksanakan, dipahami, dan diawasi oleh tingkat pimpinan, manajemen, hingga karyawan untuk mendapatkan keuntungan dan mencegah kerugian guna mencapai tujuan organisasi itu sendiri.

3. OJK (Otoritas Jasa Keuangan)

Menurut OJK, pengendalian internal merupakan sistem yang dirancang oleh perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, mengamankan harta, menjaga ketelitian data perakunan, menegakkan disiplin, dan meningkatkan ketaatan karyawan terhadap kebijakan perusahaan.

Dari ketiga definisi tersebut, sebenarnya Anda bisa menarik satu benang merah terkait definisi pengendalian internal yaitu sebuah sistem yang dibuat oleh perusahaan atau organisasi dalam mengatur segala sesuatu aktivitas di dalamnya untuk mencapai tujuan perusahaan atau organisasi tersebut.

Sehingga yang bertanggung-jawab bukanlah pemilik atau pimpinan organisasi saja namun seluruh anggota di dalamnya meski pada awalnya, pengendalian internal dibuat dan diamanatkan oleh dewan direksi atau pimpinan.

 

Tujuan dan Fungsi Pengendalian Internal

Seperti yang telah disinggung pada definisinya, tujuan adanya pengendalian internal adalah agar perusahaan bisa mencapai tujuannya dengan cara mendapatkan kesempatan dan keuntungan serta mencegah adanya kerugian.

Selain itu, ada beberapa tujuan lainnya yaitu.

  • Menghasilkan informasi seperti laporan keuangan yang bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan
  • Memastikan segala aktivitas perusahaan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
  • Meningkatkan efisiensi dan mencegah adanya pemborosan pengelolaan sumber daya perusahaan.
  • Memastikan segala anggota perusahaan atau organisasi mengetahui dan mematuhi kebijakan yang telah dibuat.
  • Menjaga aset perusahaan.
  • Menjamin keamanan operasional perusahaan.

Hal yang paling jelas adalah tentu mencegah adanya tindak kecurangan karyawan seperti administration fraud atau financial fraud.

Jenis Pengendalian Internal

Berdasarkan tujuannya, pengendalian internal dibagi ke dalam dua jenis yaitu:

  • Pengendalian internal akuntansi yang meliputi persetujuan, keandalan data, pemisahan fungsi operasi, penyimpanan, pencatatan, hingga pengawasan aset atas kekayaan.
  • Pengendalian internal administrasi yang meliputi efisiensi usaha, kebijakan direksi, analisis risiko, manajemen sumber daya hingga pengendalian mutu.

Baca Juga: Audit Operasional: Bagaimana Tujuan, Contoh, Tahapan & Laporannya?

Unsur-Unsur Pengendalian Internal secara Umum

Ada beberapa unsur sistem pengendalian internal yaitu:

  1. Struktur yang mampu memisahkan tanggungjawab fungsional secara jelas dan tegas. Misal dalam akuntansi harus ada dua orang yang bertugas secara berbeda yaitu orang yang menerima transaksi dan orang yang mencatat transaksi keuangan.
  2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan unsur laporan keuangan. Contoh pengendalian internal kas perusahaan.
  3. Melaksanakan tugas dan fungsi unit secara sehat. Misalnya memberikan hak cuti dan adanya aktivitas audit administrasi.
  4. Mutu karyawan yang mampu mengemban tanggung jawabnya. Misalnya menciptakan tata kelola karyawan yang baik mulai dari seleksi hingga pengembangan karyawan.

 

Komponen Pengendalian Internal

Ada lima komponen pengendalian internal yang disempurnakan oleh COSO (Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission) yaitu:

1. Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian adalah seluruh aspek yang membentuk perilaku, struktur, standar, dan pedoman yang menjalankan operasional perusahaan.

Ada tiga hal yang mempengaruhi lingkungan pengendalian internal yaitu:

  • Filosofi dan gaya operasional manajemen;
  • Integritas dan nilai kode etik perusahaan;
  • Komitmen pada kompetensi;
  • Struktur organisasi;
  • praktik administrasi dan personalia;
  • kebijakan operasional.

Bisa dibilang, lingkungan pengendalian sebagai pondasi untuk membentuk unsur-unsur pengendalian internal lain.

Salah satu contohnya adalah kebijakan operasional terkait pengembangan SDM. Misalnya terkait pengembangan, tata kelola HR, pelatihan, atau evaluasi jabatan.

Tanpa adanya kebijakan yang baik, bisa jadi perusahaan tidak memiliki SDM yang memiliki mutu yang baik dan sesuai dengan tujuan perusahaan itu sendiri.

2. Penilaian Risiko

Setiap aktivitas memiliki risiko termasuk aktivitas operasional maupun produksi perusahaan. Baik risiko yang berkaitan dengan bisnis secara langsung maupun tidak.

Perusahaan menilai risiko dengan melakukan manajemen risiko yang terdiri dari analisis, tindakan, dan evaluasi.

Penilaian risiko juga berkaitan dengan proses pencapaian tujuan perusahaan. Dengan mengurangi risiko, perusahaan bisa lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan; mendapatkan keuntungan maksimal dan mengurangi kerugian.

Adapun risiko yang mungkin terjadi adalah risiko perubahan hukum, situasi politik dan ekonomi, internal fraud, ancaman pesaing, hingga anomali permintaan pasar.

3. Prosedur Pengendalian

Dalam melakukan pengendalian, terdapat prosedur atau pedoman yang harus dijalankan. Hal ini agar segala upaya pengendalian benar-benar berada di jalurnya dalam mencapai tujuan perusahaan.

Adanya prosedur juga menjadi alat deteksi adanya masalah pengendalian seperti kecurangan atau ketidakberesan dalam aktivitas perusahaan.

Seperti yang telah dijelaskan dalam poin unsur-unsur pengendalian internal secara umum, prosedur pengendalian internal meliputi;

  • anggota atau karyawan yang berkompetensi;
  • rotasi kerja dan kewajiban cuti;
  • pemisahan fungsi dan tanggung jawab;
  • ulasan kinerja;
  • perlindungan aset dan data akuntansi.

4. Pengawasan

Komponen selanjutnya adalah pengawasan. Fungsi pengawasan dalam pengendalian internal adalah memastikan bahwa setiap aktivitas pengendalian berjalan sesuai dengan pedoman atau prosedur.

Selain itu dengan adanya pengawasan, manajemen perusahaan bisa mengidentifikasi langkah-langkah yang lebih efektif dalam mencapai tujuan.

Pengawasan dapat dilakukan dengan dua hal. Pertama penilaian khusus atau audit internal maupun keuangan.

Kedua dengan mengidentifikasi adanya sinyal peringatan yang berhubungan dengan perilaku karyawan dan juga sistem akuntansi.

Contoh sinyal peringatan yang berhubungan dengan karyawan adalah perubahan perilaku seperti kinerja yang semakin memburuk dan seringnya karyawan mengambil absen.

Sedangkan contoh sinyal peringatan pada sistem akuntansi adalah adanya transaksi yang tidak biasa pada pembelian atau perbedaan data antara setoran kas harian dengan setoran bank.

5. Informasi dan Komunikasi

Komponen informasi dan komunikasi juga tidak kalah pentingnya dengan elemen-elemen lain. Tanpa adanya informasi, segala proses pengendalian mulai dari pembentukan kebijakan, analisis risiko, hingga pengawasan mustahil bisa dilakukan.

Informasi dan komunikasi juga digunakan untuk menilai kejadian atau kondisi yang mampu berpengaruh dalam pengambilan keputusan dan juga pelaporan eksternal.

Konsep Dasar Struktur Pengendalian Internal

Struktur Pengendalian Internal memiliki beberapa konsep dasar yaitu:

  • Dilakukan dan merupakan tanggung jawab oleh manajemen. Meskipun pengendalian internal melibatkan seluruh anggota secara struktur pihak manajemen yang bertanggung jawab terselenggaranya pengendalian internal.
  • Memberikan kepercayaan dan kepastian yang wajar namun tidak absolut. Hal tersebut karena mempertimbangkan kebutuhan, biaya, dan tujuan tertentu.
  • Adanya keterbatasan. maksudnya pengendalian internal tidak melulu efektif tergantung dengan kompetensi dan keandalan pelaksanaanya.
  • Sistem pengolahan data yang berguna untuk mengembangkan informasi terkait pengendalian internal.

Contoh Pengendalian Internal pada Perusahaan

Setelah memahami konsep dasar dari pengendalian internal, tidak lengkap jika tidak membahas contoh kasus pada perusahaan.

Mari ambil kasus melalui pengendalian internal toko kelontong yang beroperasi 24 jam. Ada beberapa contoh pengendalian yang bisa diterapkan seperti:

  • Menempatkan mesin kasir langsung di depan pintu masuk toko untuk memudahkan pelanggan melakukan transaksi.
  • Mempekerjakan dua karyawan kasir yang bertugas secara shift, dan satu orang yang bertugas mencatat transaksi.
  • Penyetoran kas ke bank setiap hari sebelum pergantian shift,
  • Menyimpan kas kecil di toko setelah pergantian shift dan simpang kelebihan kas di brankas yang hanya bisa diakses karyawan yang memiliki otoritas.
  • Memasang kamera pengawas.
  • Adanya sistem untuk mencatat langsung kas yang masuk ke dalam perhitungan otomatis untuk mempermudah.
  • Setiap pergantian shift, karyawan diwajibkan absen.
  • Setiap ada barang yang keluar dan masuk dicatat ke dalam dokumen atau sistem data.

Kekurangan Sistem Pengendalian Internal

Pengendalian internal yang sifatnya terbatas juga menjadi kekurangan. Efektif atau tidaknya sistem pengendalian sangat bergantung pada sifat manajemen itu sendiri dan faktor-faktor lainnya.

Itu artinya pengendalian internal tidak secara ajaib mampu merubah sistem manajemen bahkan keberhasilan perusahaan.

Kekurangan lainnya yang tidak bisa dikendalikan oleh sistem pengendalian internal di antaranya:

  • Hubungan nepotisme dalam membangun sistem pengendalian yang kerap menimbulkan ketidakadilan pada kalangan anggota atau karyawan perusahaan.
  • Praktik kolusi dimana sekelompok orang baik konsumen, sesama karyawan maupun vendor bekerjasama untuk melakukan kecurangan.
  • Anomali kebijakan pemerintah dan kondisi sosial-politik-budaya di wilayah atau negara tempat perusahaan berdiri.
  • Tindakan pesaing yang sejatinya di luar kontrol perusahaan.
  • Perubahan perilaku konsumen misalnya konsumen tidak mau lagi menggunakan produk perusahaan karena nilai manfaatnya yang semakin berkurang.

Dan hal-hal lain yang sejatinya berada di luar kontrol perusahaan. Meski begitu, wajib bagi perusahaan memiliki sistem atau struktur pengendalian internal apapun hasilnya.





DAFTAR PUSTAKA

Pengendalian Internal: Pengertian, Tujuan, dan Komponennya

April 12, 2021 https://www.rusdionoconsulting.com/pengendalian-internal-perusahaan/

SIKLUS PENDAPATAN DALAM SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

TUGAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI    BAB V "SIKLUS PENDAPATAN " Disusun :  AGUSTINUS BAYU SETIAWAN 2019111209 AKUNTANSI Mata Kuliah...